Sejak 1 Januari 2025, tarif pajak pertambahan nilai naik menjadi 12 persen. Tetapi tagihan yang Anda terima untuk barang biasa tetap menunjukkan angka yang setara 11 persen. Keduanya benar, dan memahami mengapa keduanya benar adalah kunci supaya pencatatan tidak berantakan.
Dua angka, satu aturan
Peraturan Menteri Keuangan 131 Tahun 2024 menetapkan tarif 12 persen. Untuk mencegah kenaikan itu membebani barang dan jasa yang tidak tergolong mewah, pemerintah menerbitkan aturan dasar pengenaan dengan nilai lain: 11 per 12 dari harga jual.
Hasilnya, pajak yang dibayar adalah 12 persen dikali 11 per 12, yang sama dengan 11 persen dari harga jual. Barang mewah tetap dikenakan 12 persen penuh, dan perlakuan itu masih berlaku pada 2026.
Jadi ada dua lapis yang harus dibaca terpisah:
- Tarif yang tertulis di faktur: 12 persen.
- Dasar pengenaan yang dipakai: nilai lain sebesar 11 per 12 untuk barang non-mewah.
Kalau salah satu lapis hilang, angkanya meleset sekitar satu persen. Terdengar kecil, sampai Anda mengalikannya dengan ribuan baris transaksi dalam setahun.
Di mana sistem salah
Kesalahan jarang datang dari staf. Kesalahan datang dari konfigurasi yang dibuat sekali lalu tidak pernah diperiksa.
Konfigurasi paling umum yang bermasalah: satu kode pajak dipakai untuk semua barang. Selama semua penjualan Anda non-mewah, angka totalnya terlihat benar. Begitu ada satu item yang harus dikenakan tarif penuh, laporan bulan itu jadi tidak konsisten dengan bulan sebelumnya, dan penyebabnya tidak terlihat karena totalnya hanya bergeser sedikit.
Konfigurasi kedua: pembulatan. Pajak dihitung per baris lalu dijumlahkan, atau dijumlahkan dulu lalu dihitung sekali. Dua cara ini menghasilkan selisih beberapa rupiah yang sah, tetapi kalau berganti cara di tengah tahun, rekonsiliasi akan menunjukkan selisih yang tidak bisa dijelaskan.
Konfigurasi ketiga: faktur yang diterbitkan sebelum aturan berlaku. Faktur lama dengan tarif lama tetap sah untuk masa pajaknya, tetapi kalau ditarik ke laporan tahun berjalan, angkanya bercampur.
Cara memeriksa faktur dalam satu menit
Untuk setiap faktur masuk, periksa tiga hal sebelum menyimpannya:
- Tanggal faktur ada di masa pajak yang sedang Anda tutup.
- Dasar pengenaan memakai nilai lain, kecuali barangnya memang tergolong mewah.
- Nomor identitas lawan transaksi sudah 16 digit dan cocok dengan data master.
Kalau ketiganya lolos, sisa pekerjaan ada di rekonsiliasi, bukan di koreksi.
Yang perlu ditulis di prosedur
Prosedur yang baik tidak menjelaskan teori tarif. Ia menjelaskan keputusan: siapa yang boleh mengubah kode pajak di master data, kapan perubahan itu diuji, dan bagaimana cara membuktikan hasilnya.
Tiga baris yang cukup:
- Perubahan kode pajak hanya lewat satu orang, dengan salinan uji pada satu transaksi sebelum dipakai massal.
- Setiap akhir bulan, satu transaksi per kategori dibandingkan manual dengan faktur yang diterbitkan.
- Selisih pembulatan dicatat sebagai selisih, bukan disesuaikan diam-diam ke baris lain.
Aturan tarif akan berubah lagi. Yang bertahan adalah kebiasaan memeriksa satu transaksi per kategori setiap bulan, karena di situlah kesalahan konfigurasi paling cepat terlihat.