Masalah
Tulisan tentang film jarang pendek. Satu esai bisa memuat dua belas menit baca, lengkap dengan istilah teori dan kutipan. Blog bawaan platform menaruh tulisan seperti itu di antara bilah samping, kotak berbagi, dan rekomendasi yang terus bergerak. Pembaca kehilangan tempat berhenti.
Penulisnya juga menolak menulis di editor berbasis peramban. Draf harus berupa berkas teks yang bisa disimpan, dicari, dan dipindahkan tanpa kehilangan riwayat.
Yang kami bangun
Hugo dengan empat rubrik: sinema, teori, opini, dan resensi. Setiap tulisan masuk ke satu rubrik lewat taksonomi, jadi halaman kategori terbentuk sendiri tanpa daftar manual.
Halaman depan membagi perhatian menjadi dua: kolom terkini untuk tulisan terbaru, kolom rekomendasi untuk pilihan editor. Slide besar di atas hanya memuat satu tulisan, dengan judul, tanggal, dan potongan paragraf pertama, bukan tiga kartu yang saling berebut.
Arsip berpaginasi di alamat tetap, dan setiap tulisan punya halaman kategori, tautan selengkapnya, dan perkiraan waktu baca. Tombol pencarian duduk di bilah navigasi yang sama di semua halaman.
Hasil
Terbit sebagai berkas statis, tanpa basis data dan tanpa panel admin. Tulisan dari Januari 2020 masih terbaca dengan tata letak yang sama hari ini, karena tidak ada pembaruan tema atau plugin yang bisa menggesernya.
Penulis menambah tulisan dengan menaruh satu berkas markdown di repositori, lalu mendorongnya. Itu seluruh alurnya.
